Media Sosial Menurut Para Ahli

Media Sosial Menurut Para Ahli

Diposting pada

Media sosial, dari perspektif berbagai ahli di berbagai bidang, telah menjadi fenomena yang kompleks dan mencerminkan dinamika interaksi manusia di era digital ini.

Ketika ahli membahas media sosial, mereka menyoroti peran yang sangat penting yang dimainkan oleh platform ini dalam membentuk cara kita berkomunikasi, berbagi informasi, dan menjalin hubungan sosial. Sebagai alat komunikasi daring, media sosial tidak hanya menyediakan saluran untuk menyampaikan pesan, tetapi juga menjadi panggung interaksi sosial yang melibatkan jutaan pengguna di seluruh dunia.

Definisi media sosial oleh Andreas Kaplan dan Michael Haenlein pada tahun 2010 menciptakan landasan yang kuat untuk pemahaman peran dan fungsi media sosial dalam lingkungan digital. Menurut mereka, media sosial adalah “seperangkat alat daring yang memungkinkan individu dan komunitas berbagi, berpartisipasi, dan berkolaborasi dengan pembuatan atau pertukaran konten.” Dalam pandangan ini, media sosial bukan hanya sekadar platform, tetapi juga menciptakan sebuah ruang kreatif yang memungkinkan pengguna untuk terlibat secara aktif dalam proses pertukaran informasi.

Definisi ini menekankan beberapa aspek kunci dari media sosial. Pertama, kemampuan untuk berbagi membawa konsep bahwa media sosial memungkinkan individu dan kelompok berbagi berbagai jenis konten, termasuk tetapi tidak terbatas pada teks, gambar, dan video. Kedua, konsep berpartisipasi menyoroti peran aktif pengguna dalam proses ini. Media sosial memberikan kekuatan kepada individu untuk tidak hanya menjadi penerima informasi tetapi juga pencipta dan kontributor. Ketiga, kolaborasi menekankan bahwa media sosial menciptakan lingkungan yang mendukung kerjasama di antara pengguna, baik dalam membuat konten maupun dalam menukar ide.

Penting untuk dicatat bahwa definisi ini juga menempatkan penekanan pada pembuatan dan pertukaran konten. Ini menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya mengenai konsumsi informasi, tetapi juga tentang produksi dan distribusi konten yang mencerminkan keanekaragaman ide, pandangan, dan pengalaman.

Dengan menggambarkan media sosial sebagai ruang kreatif, Kaplan dan Haenlein memberikan gambaran yang dinamis dan proaktif tentang bagaimana individu dan komunitas dapat saling berinteraksi. Ini menegaskan bahwa media sosial tidak hanya sebagai alat, tetapi juga sebagai wadah bagi ekspresi, inovasi, dan kolaborasi. Definisi ini memberikan pandangan yang luas tentang potensi media sosial sebagai pendorong kreativitas dan pertukaran budaya di dunia digital saat ini.

Menurut pandangan Boyd dan Ellison pada tahun 2008, definisi media sosial adalah sebagai “layanan berbasis web” yang memfasilitasi pembuatan profil publik atau semi-publik, membentuk daftar koneksi, dan menjelajahi hubungan dalam suatu sistem terbatas. Definisi ini menggambarkan media sosial sebagai sebuah platform online yang memungkinkan individu untuk mempresentasikan diri mereka, membentuk jaringan koneksi, dan menjelajahi interaksi sosial di dalam suatu lingkungan terbatas.

Pembuatan profil publik atau semi-publik merupakan elemen kunci dalam definisi ini. Media sosial memungkinkan individu untuk menyajikan diri mereka secara online, menyediakan wadah untuk membagikan informasi pribadi, minat, dan aktivitas kepada orang lain. Proses membentuk daftar koneksi menyoroti aspek membangun hubungan di dunia maya, di mana individu dapat terhubung dengan orang-orang yang memiliki minat atau latar belakang serupa.

Pandangan ini juga membuka diskusi tentang bagaimana media sosial berperan dalam membentuk identitas digital. Dengan memberikan ruang untuk menyusun profil dan berinteraksi dengan orang lain, media sosial menjadi wahana di mana individu dapat menyampaikan citra diri mereka secara online. Identitas digital ini dapat mencerminkan aspek-aspek kehidupan nyata, namun juga dapat membentuk dimensi baru yang unik di dunia maya.

Selain itu, definisi tersebut menyoroti peran media sosial dalam memfasilitasi terbentuknya komunitas daring. Dengan membentuk daftar koneksi dan menjelajahi hubungan dalam suatu sistem terbatas, media sosial menciptakan lingkungan di mana individu dengan minat dan tujuan yang sama dapat berinteraksi. Ini tidak hanya menciptakan jaringan sosial, tetapi juga memungkinkan munculnya komunitas daring yang mendukung dan saling memperkaya.

Menurut pandangan Boyd dan Ellison pada tahun 2008, definisi media sosial adalah sebagai “layanan berbasis web” yang memfasilitasi pembuatan profil publik atau semi-publik, membentuk daftar koneksi, dan menjelajahi hubungan dalam suatu sistem terbatas. Definisi ini menggambarkan media sosial sebagai sebuah platform online yang memungkinkan individu untuk mempresentasikan diri mereka, membentuk jaringan koneksi, dan menjelajahi interaksi sosial di dalam suatu lingkungan terbatas.

Pembuatan profil publik atau semi-publik merupakan elemen kunci dalam definisi ini. Media sosial memungkinkan individu untuk menyajikan diri mereka secara online, menyediakan wadah untuk membagikan informasi pribadi, minat, dan aktivitas kepada orang lain. Proses membentuk daftar koneksi menyoroti aspek membangun hubungan di dunia maya, di mana individu dapat terhubung dengan orang-orang yang memiliki minat atau latar belakang serupa.

Pandangan ini juga membuka diskusi tentang bagaimana media sosial berperan dalam membentuk identitas digital. Dengan memberikan ruang untuk menyusun profil dan berinteraksi dengan orang lain, media sosial menjadi wahana di mana individu dapat menyampaikan citra diri mereka secara online. Identitas digital ini dapat mencerminkan aspek-aspek kehidupan nyata, namun juga dapat membentuk dimensi baru yang unik di dunia maya.

Selain itu, definisi tersebut menyoroti peran media sosial dalam memfasilitasi terbentuknya komunitas daring. Dengan membentuk daftar koneksi dan menjelajahi hubungan dalam suatu sistem terbatas, media sosial menciptakan lingkungan di mana individu dengan minat dan tujuan yang sama dapat berinteraksi. Ini tidak hanya menciptakan jaringan sosial, tetapi juga memungkinkan munculnya komunitas daring yang mendukung dan saling memperkaya.

Secara keseluruhan, pandangan Boyd dan Ellison memandang media sosial sebagai sebuah platform interaktif yang tidak hanya memfasilitasi komunikasi online, tetapi juga membentuk identitas digital dan mendukung pembentukan komunitas daring di dunia digital saat ini. Definisi ini menyoroti peran penting media sosial dalam membawa dimensi sosial ke dalam lingkungan online.

Pandangan Howard Rheingold pada tahun 2010 mengenai media sosial memberikan perspektif yang kaya terkait peran dan potensi platform ini dalam meningkatkan komunikasi dan konektivitas global. Baginya, media sosial adalah “alat komunikasi” yang memfasilitasi interaksi antarindividu, memungkinkan manusia untuk berbicara satu sama lain dan menghubungkan diri di seluruh dunia.

Konsep media sosial sebagai alat komunikasi menyoroti bahwa fungsi utama platform ini adalah untuk memungkinkan pertukaran pesan, ide, dan informasi di antara pengguna. Dalam hal ini, media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga menciptakan ruang bagi dialog global yang melibatkan berbagai latar belakang, budaya, dan lokasi geografis.

Pentingnya Rheingold untuk menekankan “potensi global” media sosial mencerminkan keyakinannya bahwa platform tersebut memiliki kemampuan untuk merentangkan batas-batas geografis dan memfasilitasi komunikasi lintas batas. Media sosial memberikan kesempatan bagi individu dari berbagai bagian dunia untuk terhubung, berbagi pengalaman, dan membangun jaringan tanpa terbatas oleh lokasi fisik.

Pandangan ini juga menekankan ide menciptakan “jaringan global,” yang menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran dalam membentuk komunitas dan konektivitas yang melibatkan partisipasi dari seluruh dunia. Hal ini menciptakan lingkungan di mana ide-ide dapat mengalir secara bebas, dan individu dapat terlibat dalam dialog dan pertukaran pemikiran secara global.

Dengan demikian, pandangan Howard Rheingold memberikan gambaran tentang bagaimana media sosial, sebagai alat komunikasi global, dapat merangkul dan memperdalam koneksi antarindividu, membangun jaringan global, dan mengatasi batas-batas geografis dalam rangka menciptakan ruang yang inklusif dan terhubung secara global di dunia maya.

Erik Qualman, pada tahun 2009, memberikan perspektif yang unik terhadap media sosial dengan menyebutnya sebagai “kilas balik manusia.” Ungkapan ini mengandung nuansa emosional yang mencerminkan peran media sosial sebagai alat yang merekam dan mengabadikan momen-momen berharga dalam kehidupan, serta menangkap pemikiran dan pengalaman individu secara digital.

Konsep “kilas balik manusia” menyoroti bahwa media sosial bukan hanya sebagai tempat berbagi informasi, tetapi juga sebagai bentuk arsip digital yang merekam jejak perjalanan hidup seseorang. Dalam konteks ini, platform-platform media sosial seperti foto, status, dan catatan menghadirkan potret kecil dari kehidupan sehari-hari, menciptakan sejenis narasi visual dan verbal yang mencerminkan perjalanan dan perkembangan individu.

Pentingnya ungkapan ini juga memberikan nilai tambah pada pengalaman pengguna media sosial. Dengan menyebutnya sebagai “kilas balik manusia,” Qualman menggarisbawahi bahwa media sosial memungkinkan pengguna untuk merekam momen penting, berbagi cerita hidup, dan membangun narasi digital mereka sendiri. Hal ini menciptakan suatu dimensi tambahan pada makna dan nilai media sosial dalam membentuk dan melestarikan kenangan individu.

Ungkapan ini juga membawa dimensi intim dalam hubungan manusia dengan media sosial. Ketika seseorang melihat kembali momen-momen yang telah diabadikan di media sosial, hal itu dapat memicu kenangan dan emosi yang terkait dengan peristiwa tertentu dalam hidup mereka. Ini menciptakan hubungan yang lebih mendalam antara individu dan platform media sosial, yang menjadi lebih dari sekadar alat komunikasi, tetapi menjadi penyimpan kenangan dan identitas digital.

Dengan menyebut media sosial sebagai “kilas balik manusia,” Qualman menyoroti bahwa platform ini tidak hanya tentang berbagi, tetapi juga tentang membangun warisan digital yang mengabadikan kisah kehidupan setiap individu. Dalam konteks ini, media sosial bukan hanya menjadi perantara interaksi sosial, tetapi juga menjadi penjaga kenangan dan cermin perjalanan manusia dalam dunia digital yang terus berkembang.

Pendekatan Andreas Kaplan dan Michael Haenlein pada tahun 2012 terhadap media sosial menggambarkannya sebagai “kumpulan aplikasi berbasis internet” yang dibangun di atas ideologi dan teknologi web 2.0. Definisi ini menyoroti peran sentral pengguna dalam proses penciptaan dan pertukaran konten, menjadikan media sosial sebagai wadah untuk ekspresi kreatif kolektif.

Dalam konteks ini, “kumpulan aplikasi berbasis internet” merujuk pada berbagai platform dan layanan yang membentuk ekosistem media sosial, seperti jejaring sosial, platform berbagi video, blog, dan lainnya. Semua ini dihubungkan oleh ideologi dan teknologi web 2.0, yang memandang internet sebagai platform kolaboratif di mana pengguna memiliki peran aktif dalam menciptakan dan mengelola konten.

Pentingnya definisi ini adalah menekankan peran pengguna sebagai kreator dan kontributor konten. Media sosial bukan hanya tentang konsumsi informasi, tetapi juga tentang partisipasi aktif dalam proses kreatif. Pengguna memiliki peran dalam membuat konten yang mencerminkan identitas, minat, dan pandangan mereka, dan dalam pertukaran ini, terbentuklah ekspresi kreatif kolektif yang mencirikan karakter unik dari komunitas media sosial.

Definisi ini juga menciptakan pemahaman bahwa media sosial adalah produk dari interaksi antara teknologi dan partisipasi pengguna. Teknologi web 2.0 memungkinkan kemudahan berbagi dan kolaborasi, sementara pengguna, sebagai elemen kritis, memberikan dimensi manusiawi yang kreatif dalam mengisi konten tersebut. Dengan kata lain, media sosial bukan hanya hasil dari teknologi, tetapi juga hasil dari dinamika antara teknologi dan kontribusi aktif pengguna.

Secara keseluruhan, pandangan Kaplan dan Haenlein menyajikan visi media sosial sebagai wadah kolaboratif di mana ideologi dan teknologi web 2.0 menciptakan ruang untuk ekspresi kreatif kolektif oleh pengguna. Definisi ini membantu memahami peran penting pengguna dalam membentuk dan mengisi konten media sosial, menjadikannya lebih dari sekadar platform informasi, tetapi juga arena bagi kolaborasi dan ekspresi identitas kreatif.

Secara keseluruhan, media sosial adalah fenomena dinamis yang tidak hanya mencerminkan evolusi teknologi, tetapi juga perubahan dalam cara kita berinteraksi, berkomunikasi, dan membentuk identitas. Media sosial telah menjadi jendela ke dunia di mana manusia dapat terhubung, berbagi, dan berpartisipasi dalam dialog global yang terus berkembang.

Sumber : chat.openai.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *